Senin, 20 Februari 2017

SEMANGAT JUANG
Mimpi adalah hal yang dimiliki oleh semua orang yang ada di muka bumi ini. Mimpi bagaikan beragam warna dan kehidupan adalah kertasnya. Tanpa adanya mimpi kehidupan akan terasa semu dan menjenuhkan.Namun, apa yang membuat kita dapat meraih mimpi itu ?
Dengan kerja keras, semangat, tekad, doa, dan restu dari orang tua yang dapat membuat mimpi itu menjadi nyata.
Impossible it’s nothing…
Benarkah itu ?
Ya, benar sekali menurutku
Seperti hukum newton yang mengatakan jika usaha akan sebanding dengan hasil yang didapat… Maka raihlah mimpimu dengan seluruh kekuatanmu, yakinkan dirimu untuk semua targetmu. Jangan pernah menoleh atas keputus asaan, dan hinaan, tapi teruslah berlari untuk dapatkan mimpi itu…. (Okvi_Ev)
Bulan Januari tiba, saatnya kami melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah menengah atas untuk mengenalkan tentang beasiswa yang kami dapat disini. Beasiswa yang mengantarkan kami kepada mimpi kami, dan beasiswa yang menyatukan kami dalam indahnya persaudaraan.
Nama saya Eva Oktaviani, mahasiswi fakultas kehutanan, Universitas Mulawarman angkatan 2015. Saya adalah etoser Kalimantan, yang berasal dari sebuah desa yang terpencil di Jawa Barat.
Tugas sosialisasi ini, kami laksanakan setiap tahun tepatnya awal tahun untuk mengenalkan tentang beasiswa ini kepada adik-adik dan teman-teman di sana yang membutuhkannya. Ya, bukan hanya membutuhkan materi namun juga membutuhkan semangat dan motivasi. Alasan jelas yang membuat mereka berani untuk melangkah. Melangkah merajut asa.
Keberadaan saya di pulau Kalimantan terhitung belum lama, namun tak menghentikan langkah saya untuk memberikan harapan kepada adik-adik saya yang membutuhkan motivasi seperti pengalaman saya dulu.
Kuliah dengan beasiswa adalah dambaan setiap orang di dunia. Selain untuk meringankan beban orang tua, namun juga bisa menjadi jembatan untuk teman-teman yang memerlukan motivasi.
Menelusuri sepanjang jalan di Samarinda untuk menemukan sekolah-sekolah untuk kami sosialisasi.
Karena alamat sekolah, kami cari sendiri dan karena ada masukan dari teman untuk mendatangi suatu desa yang belum tersentuh. Akhirnya saya berinisiatif untuk mencari sekolah yang belum terdapat alamatnya. Sebelum sosialisasi, biasanya kami melist alamat sekolah terlebih dahulu untuk memudahkan pencarian kami. Namun saya mencoba untuk mendatangi sekolah yang tidak masuk list, karena rasa penasaran saya yang begitu besar untuk menemukan sekolah yang perlu banyak motivasi dari saya. Informasi itu sangat penting, terlebih lagi jika kita sudah memiliki keinginan namun tidak mampu dan tidak tahu apa-apa. Pasti rasa takut yang mengahantui, sehingga keinginan itupun perlahan mulai hilang.
Tak berapa lama saya melakukan perjalanan, tibalah saya di suatu sekolah menegah kejuruan. Sekolahnya masuk ke dalam gang. Sekolah tersebut hening, sejuk dan lumayan rindang. Awalnya saya ragu untuk masuk, karena saya kira seluruh siswanya sudah pulang. Namun ketika saya bertemu dengan staffnya, mereka sangat menyambut dengan baik dan setelah melakukan percakapan singkat, akhirnya saya diperbolehkan untuk melakukan sosialisasi dengan waktu yang ditentukan.
Beberapa hari kemudian saya datang lagi untuk melakukan sosialisasi. Setelah saya masuk ke dalam kelas, tampak seluruh siswa duduk dan menatap saya. Semua siswa yang di dalam kelas laki-laki, sehingga membuat saya agak gugup karena anak laki-laki akan cenderung mengabaikan acara-acara seperti ini fikir saya. Setelah mulai perkenalan, saya mulai merasa adik-adik disana sangat santai dan akrab. Saya pun berbagi cerita dengan mereka dan melakukan sosialisasi dengan penuh semangat. Sering diantara merekapun yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada saya, namun memang ada juga yang acuh tak acuh ada pula yang hanya senyum-senyum.
Ada satu pertanyaan yang mereka berikan kepada saya, yang membuat saya terdiam dan berfikir dalam
“Kak, kami itu dari SMK kami di persiapkan untuk bekerja, apakah setelah bekerja dulu masih bisa masuk kuliah dengan jalur raport dan mendapat beasiswa ? Sedangkan kami pun tidak terlalu pintar. Saya harus membantu orang tua saya dulu kak”
Saya pun terdiam, karena saya merasa pernah mengalami masalah tersebut ketika saya diposisi mereka dulu.
Dimana saya memiliki tanggung jawab atas keluarga dan mimpi saya.
Seorang anak, sejatinya adalah sebatang pohon yang masih muda, yang belum banyak memiliki cabang dan belum tahu apakah dia bisa tumbuh dengan subur atau tidak. Jika seorang anak diberi beban orang dewasa semasa mereka masih begitu muda, entah apa yang terjadi. Mentalnya belum terkontrol, hatinya masih penuh dengan keraguan dan mereka belum dapat menentukan kehidupannya.
Indonesia terdiri dari sumber daya manusia yang terhitung banyak, namun belum termanfaatkan dengan baik. Dengan SDA yang melimpah, Indonesia masih menjadi negara yang berkembang, kenapa ?
Jawabannya adalah karena SDM yang terhitung minim kualitasnya, pengetahuannya, dan prestasinya.
Pendidikan yang bagus dari universitas dan perguruan tinggi yang memiliki kualitas yang baik telah menjamur di Indonesia, namun masih saja SDM tetap kurang kualifikasinya.
Beasiswa pendidikan pun telah banyak di Indonesia, bahkan ada yang sampai luar negeri.
Namun masih saja banyak anak-anak yang merasa kalau kuliah adalah sebuah penghambat. Apa alasannya ?
Alasannya karena mereka tidak tahu dan tidak diberi tahu. Kurangnya kita sebagai masyarakat intelektual untuk berbagi pengetahuan kita kepada mereka. Mereka adalah generasi selanjutnya setelah kita, jangan kita biarkan mereka menyerah dengan mimpinya.
Ingat kita adalah bagian dari mereka di masa lalu yang kini telah menikmati hal yang seharusnya mereka nikmati pula.
Karena SDM yang terlatih akan kalah dengan SDM yang terkualifikasi. Itulah gambaran masa depan.
Mereka dan pertanyaan itu adalah salah satu hal yang saya alami ketika melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Dan akhirnya saya menjelaskan selalu tentang masa depan, peluang kuliah dan beasiswa. Meskipun saya termenung didalam hati saya atas semangat mereka yang terhambat karena ketakutan  mereka atas mimpi mereka.
Saya sangat berharap sekali teman-teman intelektual semua yang memiliki peran penting sebagai pengubah dunia bisa lebih memanfaatkan diri agar bermanfaat bagi orang lain karena begitu pentingnya keperdulian kita sebagai penentu mimpi orang lain.
Setelah selesai sosialisasi, adik-adik di sekolah tersebut sangat antusias dengan info yang dibagikan. Terlihat jelas harapan mereka yang mulai bersemi dan pertanyaan mereka yang terjawab.
Ada banyak lagi sekolah yang semangatnya seperti mereka, namun sedikit sekali yang mau memperjuangkan usaha mereka sampai sampai titik akhir.
Namun perjuangan kita belum selesai, dan semangat kita jangan pernah berakhir.
Kita tetap harus memberikan motivasi terbaik untuk semua orang, karena disitulah kita bersinar.

Semangatlah semua pejuang muda, raihlah mimpi bagai mengukir di atas langit.
Karena harapan bukan sekedar angan jika tekad berjuang terus membara dan doa terbaik selalu terpanjat, percaya Allah akan selalu bersama kita…
Amin… ^^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar